14 Agustus 2009

REUNI TEMU ALUMNI SMU GAMA "TIGA MARET" ANGKATAN 1995 LULUS 1998


REUNI TEMU ALUMNI SMU GAMA "TIGA MARET" ANGKATAN 1995 LULUS 1998

Tanggal:26 September 2009
Waktu:10:00 - 15:00

Tempat:
RUMAH MAKAN KANGEN DESA
Jl. Raya Pakem Turi km 3 Pakisaji, Pakem, Sleman Yogyakarta
Kontribusi:RP. 55.000,-

Contact person:
Gunarto kurniawan ( Gugun ) : 081 56887377
Dina Nerri : 085 72 924 3663
Heru Kurniawan : 0274 7001754
Riski Adi P : 0274 7444747
Tri Cahyo Adhyaksa ( Adi ) : 0888 272 9894

PENDAFTARAN HUB:
DINA : 085 72 924 3663
RISKY: 0274 7444747

Dan segera lakukan Pembayaran, sebesar Rp. 55.000,- bisa melalui Transfer Ke BANK BCA (BANK CENTRAL ASIA) Nomer Rekening 0372620933, A/N. DINNA NERRI.

Lakukan konfirmasi setelah kalian transfer ke nomor 085 72 924 3663 (DINA), untuk pengecekan dana dan untuk segera di lakukannya pendataan peserta.

Nb:
Bagi yang memiliki Contact Alumni SMU GAMA Angkatan 95, yang tidak memiliki facebook, mohon bantuannya untuk memberikan informasi perihal akan di langsungkannya acara ini. Atau bisa dikirimkan data nomer telp/alamat rumah yang bersangkutan kepada Panitia, agar bisa di kirimkan informasi lebih lanjut.

Buat yang bukan Angkatan Masuk 1995, Lulus 1998, Abaikan pesan ini.

Terimakasih.

PANITIA

Link:
http://www.facebook.com/event.php?eid=117921761122

10 Juli 2009

Budha Datang Bersama Pelangi


Pada 1 Juli 2007, di Provinsi Heibei, Cina Utara, setelah beberapa jam hujan lebat di Qinhuangdao , muncul pelangi di Gunung Zushan. Pelangi yang terbentuk membentuk lingkaran sempurna dengan bayangan seseorang berada di tengah pelangi. Fenomena ini bertahan selama satu jam lebih dan menarik banyak orang....Fenomena apakah ini

Jalani Hidup Di Pinggir Gedung


Ada-ada saja yang dilakukan dua orang bersaudara di Rio, Brasil. Mungkin saja mereka mau ngetop. Soalnya, mereka itu menjalani hidup di bagian sisi gedung.

Keduanya tidur, bekerja, dan makan, pada sisi sebuah bagunan bertingkat setinggi 10 meter atau sekitar 33 kaki dari dasar bangunan tersebut.

Tiago Primo, yang berusia 27 tahun, dan adiknya, Gabriel, berusia 20 tahun, menghabiskan 12 jam sehari waktunya untuk tidur, di tempat tidur gantung, duduk di bangku, dan makan di meja makan yang dipaku di dinding gedung.

Perabotannya itu berdempetan dengan dinding yang sudah dicat berwarna merah dan kuning. Nah, Tiago Primo menyebutkan semua itu bagian dari pameran seni di Pusat Rio.

Kedua bersaudara itu melengkapi dirinya dengan perlengkapan mendaki seperti gir gunung, dan lainnya. Dan jika "hajat" memanggil mereka, keduanya saling berebutan menuju beranda yang berdekatan dengan galeri, tempat sebuah kamar mandi terbuka menunggu.

Media asing yang dilansir situs yahoo.com melaporkan, kedua bersaudara itu telah menggantung di atas bangunan setinggi 33 kaki itu sejak akhir Mei 2009. Mereka merencanakan melanjutkan aktivitas tersebut sampai 20 Agustus 2009.

Bayi Mamoth (mati) Ditemukan Dengan Kondisi Hampir Sempurna

Pada suatu pagi bulan Mei 2007 di Semenanjung Yamal, Siberia barat laut, seorang penggembala rusa kutub dari suku Nenets bernama Yuri Khudi berdiri di sebuah beting Sungai Yuribey bersama tiga putranya, bermusyawarah mengenai sesosok jasad kecil. Walau belum pernah melihat binatang seperti itu sebelumnya, mereka sangat mengenal jasad itu dari dongeng yang dinyanyikan orang Nenets di balai pertemuan pada malam musim dingin yang gelap. Ini bayi mamont, makhluk buas yang kata orang Nenets berkeliaran di dunia bawah yang gelap dan beku, digembalakan oleh para dewa neraka sama seperti Nenets menggembalakan rusa kutub di tundra. Khudi sudah sering melihat gading mamut, batang berpilin warna kuning madu setebal batang pohon yang ditemukan sukunya setiap musim panas. Namun, dia tak pernah melihat binatang yang utuh, apa lagi yang demikian awet bak mukzizat tersebut. Selain rambut dan kuku yang tak ada lagi, bagian tubuh yang lain masih utuh.

Khudi gelisah. Dia merasa ini penemuan penting yang harus diberitahukan kepada orang lain. Namun, dia tidak mau menyentuh binatang itu karena suku Nenets yakin mamut adalah pertanda malapetaka. Bahkan ada yang mengatakan bahwa barangsiapa menemukan mamut akan mati muda. Khudi bersumpah akan menenangkan penguasa neraka dengan mengorbankan anak rusa kutub dan sesajen vodka. Tapi, Pertama, dia harus menempuh perjalanan 240 kilometer ke selatan, ke kota kecil Yar Sale untuk berkonsultasi dengan teman lamanya Kirill Serotetto yang lebih paham perihal dunia luar. Serotetto mendengarkan cerita temannya lalu bergegas membawanya menemui direktur museum lokal yang membujuk pemerintah setempat untuk menerbangkan Khudi dan Serotetto kembali ke Sungai Yuribey dengan helikopter.
Sayang disayang, saat mereka tiba di beting itu, mamut tersebut telah hilang.

Sesungguhnya, dongeng alam bawah Nenets benar adanya: tanah bagian dalam di Siberia penuh dengan mamut berbulu tebal. Saat es mencair setiap musim panas, ratusan gading, gigi, dan tulang muncul di tepi sungai, danau, serta di sepanjang pantai. Erosi membebaskan rangka-rangka itu dari tanah beku tempat tulang-tulang itu terbaring selama puluhan ribu tahun. Sejak ahli botani Mikhail Ivanovich Adams menemukan jasad mamut berbulu wol pertama di Siberia pada 1806, sekitar selusin spesimen jaringan lunak lainnya telah ditemukan, termasuk beberapa anak mamut mulai dari yang baru lahir hingga umur setahun. Namun, dari semua jasad berbagai umur itu, tak ada yang selengkap makhluk yang ditemukan Yuri Khudi—dan kini hilang—di Sungai Yuribey.

Khudi juga curiga bahwa orang yang mau menangani benda semacam itu mungkin akan mendapat untung besar—pedagang gading secara berkala mengunjungi wilayah itu untuk membeli gading mamut dan entah berapa yang akan mereka bayar untuk mamut utuh? Kecurigaan Khudi segera jatuh kepada salah seorang sepupunya yang oleh beberapa orang Nenets dilihat ada di beting itu dan kemudian terlihat pergi naik kereta rusa-kutubnya ke arah kota Novyy Port.

Khudi dan Serotetto bergegas mengejar dengan mobil salju. Setibanya, mereka melihat mamut kecil itu disandarkan di tembok sebuah toko. Orang-orang memotretnya dengan kamera ponsel. Si pemilik toko telah membeli jasad itu dari sepupu Khudi seharga dua mobil salju dan makanan untuk setahun. Walau tidak lagi sempurna—anjing geladak telah menggerogoti sebagian ekor dan telinga kanannya—berkat bantuan beberapa polisi lokal, Khudi dan Serotetto berhasil memperoleh kembali bayi itu. Jasad itu lalu dibungkus dan dikirim dengan helikopter untuk disimpan dengan aman di Museum Shemanovsky di Salekhard, ibu kota wilayah itu.

“Untungnya berakhir bahagia,” ujar Alexei Tikhonov, direktur Museum Zoologi St. Petersburg dan salah seorang ilmuwan pertama yang melihat bayi yang ternyata betina itu. “Yuri Khudi menyelamatkan mamut paling awet yang kita peroleh dari Zaman Es.”

Para pegawai yang berterima kasih menamainya Lyuba, sama dengan istri Khudi.













31 Maret 2009

Strategi Major Label Membunuh Artisnya


Teman-teman, kita sudah sampai di era baru industri musik.Era dimana label rekaman melancarkan strategi terkejam dalam sejarah industri musik di tanahair: Menguasai artis dengan jalan mengelola karir mereka. Istilah populernya mereka melakukan ekspansi bisnis dengan cara membuka divisi Manajemen Artis di label rekaman.

Gue adalah salah seorang yang nggak setuju dengan berdirinya manajemen artis dalam sebuah label rekaman. Gue punya argumentasi yang kuat untuk ini. Label rekaman itu INKOMPETEN untuk urusan manajemen artis dan nantinya gue yakin malah bakal merusak tatanan industri musik yang selama ini otonom dari tiga belah pihak terkait (artis, manajemen, label).

Bisnis utama label rekaman adalah jualan kaset, CD, RBT, dsb. Semua yang berhubungan dengan rekaman musik. Dari nama saja sudah jelas: Perusahaan Rekaman! Akhirnya ketika mereka membuka divisi baru (Artis Manajemen) gampang ditebak kalo kerepotan dan berbagai kebodohan dalam urusan manajerial artis bakal terjadi di sana. Mulai dari SDM yang mereka miliki butut hingga praktek-praktek jualan band yang obscure. Karena mereka masih "belajar" maka jangan cari profesionalisme manajemen artis di dalam major label :)

Conflict of interest tingkat tinggi juga bakal terjadi di dalam band ketika manajernya bingung harus membela kepentingan yang mana nantinya (artis atau label?). Secara manajer lama kemungkinan besar bakal ”digaji” oleh label dan nanti hanya akan menjadi sub-ordinat dari manajemen baru.

Gara-gara pembajakan musik yang makin gokil (bahkan konon direstui negara) dan menurun drastisnya penjualan album fisikal, akhirnya mereka mengambil jalan pintas mendirikan manajemen artis yang ujungnya lagi-lagi merugikan artis nantinya. Label bukannya bersatu memerangi pembajakan namun malah berkomplot untuk mengeksploitasi artis habis-habisan agar mereka bisa terhindar dari kebangkrutan.

Biarkan artis yang bangkrut, tapi jangan labelnya! Kira-kira kasarnya begitu. Sekali lagi artis adalah obyek penderita nomor satu nantinya.

Setelah kecilnya nilai royalti mekanikal di Indonesia, statistik penjualan album yang manipulatif, dilarangnya artis bergabung dengan KCI oleh ASIRI (atau diminta keluar dari KCI jika telah bergabung) maka penindasan terhadap artis akan datang lebih kejam lagi nantinya. Detailnya kira-kira seperti di bawah ini.

Ini prediksi yang bakal terjadi di masa depan dengan ”artis-artis baru” yang kontrak dengan major label yang memiliki divisi manajemen artis:

  • Masa depan karir band baru akan tergantung dari label rekaman, bukan berada di tangan manajemen lama atau artisnya sendiri.
  • Tumpulnya peran dan kontrol manajemen artis yang lama dalam membela kepentingan-kepentingan artis. Manajemen lama akan menjadi sub-ordinat dari label dan kemudian hanya berfungsi sebagai baby-sitting artis. Semua fungsi kontrol dan decision making artis akan terpusat kepada label sebagai investor. Manajer lama tidak punya hak karena mereka tidak invest apapun. Kemungkinan besar mereka akan disingkirkan dengan jalan "pembusukan". Mempengaruhi artis dengan iming-iming kesuksesan di industri musik.
  • Kontrol yang sangat ketat dalam proses kreatif dan menciptakan musik berakibat hilangnya idealisme artistik & estetis karena artis hanya akan diperbolehkan menciptakan musik-musik yang tengah disukai oleh pasar yang tidak cerdas. Sejuta band mirip Kangen Band diprediksi akan membajir di industri musik kita :)
  • Berkurang secara signifikannya pemasukan bagi artis karena mereka harus share profit selain dari royalti mechanical, live show, merchandise, touring, advertising, publishing dan sebagainya. Hal yang belum pernah terjadi sebelumya. It's a very big, big, big LOSS, ladies & gentleman!
  • Buruknya lagi, kalau artis baru nanti terlalu blo'on, maka tingkat eksploitasi akan diperkejam lagi hingga nama band dipatenkan oleh label, internal band akan dikontrol langsung pihak label, penggelapan royalty, sales report yang culas hingga berlakunya sistem bodoh dengan label menggaji para artis. Jika selama ini kita memandang artis sebagai seniman dengan talenta yang tidak ternilai maka selanjutnya kita akan dipaksa memposisikan artis tak lebih dari "kuli musikal."

Strategi ”mega-eksploitatif” ini memang hanya diberlakukan bagi band-band baru yang ditawarkan kontrak rekaman oleh major record company. Contoh paling konkret misalnya terjadi pada Nidji, Letto (Musica), The Changcuters, St. Loco, Vagetoz (SonyBMG Indonesia), Kangen Band (Warner), Tahta (EMI), dsb. Semuanya memang memiliki deal-deal yang berbeda satu sama lain. Maksudnya tingkat eksploitasinya berbeda-beda. Ada yang parah dan ada yang parah banget. Gue sempat mendengar ada satu band yang dipotong komisinya sebesar 45% (gross) setelah join dengan manajemen artis major label.

Band baru yang hadir dengan strategi yang brilyan dan sangat berhasil di awal karirnya adalah Samsons yang melakukan master licensing deal dengan Universal Music Indonesia. Mereka membiayai sendiri produksi rekaman dan kemudian menjalin kerjasama promosi & distribusi dengan major label selanjutnya. Ke depannya deal seperti ini nantinya akan menjadi ”favorit” para manajer artis (tentu bila mampu).

Pastinya, label rekaman tidak akan menawarkan strategi keji ini kepada band-band lawas/senior karena bargaining position mereka sudah sangat kuat. Selain brand mereka sudah dikenal luas, pengalaman dan pengetahuan bisnis musik yang sangat memadai, fanbase yang kuat juga sangat berpengaruh terhadap positioning mereka di industri musik. Label sendiri kadangkala melihat artis-artis lawas sebagai ”uzur,” ”grace period” atau sudah rendah ”selling point”nya.

Itulah kenapa akhirnya label rekaman besar hanya akan memburu band-band/artis baru yang masih hijau, yang minim pengetahuan bisnis musiknya dan belum paham peta/konstalasi industri musik lokal. Selain bakal gampang dibodohi dengan kontrak yang sangat eksploitatif mereka juga akan dipengaruhi iming-iming "fame & fortune" di industri musik. Padahal belum tentu bakal "booming" juga :)

Jika Anda saat ini berada di sebuah band baru dan ditawarkan kontrak rekaman dari major label maka jangan terburu-buru tergiur dulu! Imej bergengsi major label tidak akan banyak memberi keuntungan. Yang terpenting adalah deal-nya, bukan masalah major atau indie label-nya. Pelajari dulu dengan seksama kontraknya, undang pengacara kenalan Anda untuk membedahnya, konsultasi dengan band-band lain yang sudah berpengalaman.

Sudah banyak kasus terjadi sebelumnya. Band-band baru menandatangani kontrak rekaman jangka panjang dengan major label dan akhirnya menyesal. Ketika bandnya booming dan banyak menerima job manggung beberapa ada yang melakukan ”resistensi” konyol dengan tidak menyetorkan komisi kepada label sesuai perjanjian. Menjadi konyol karena setelah kontrak rekaman itu ditandatangani maka konsekuensi-konsekuensi di belakangnya seharusnya sudah kita tahu sejak awal. Oleh karena itu jangan ikut mengantri di barisan kebodohan. Empowered yourself!

Cara kerja label juga akan lebih mirip jarum suntik nantinya. Sekali pakai langsung buang, disposable. Artis-artis baru tidak akan ada yang didevelop untuk panjang umur karirnya, mereka hanya akan disupport demi "popularitas maksimal dua atau tiga album saja!" Setelah booming besar dan untung besar, siap-siap menuju ladang pembantaian. Setelah dibantai maka dicari lagi talenta baru. Kalau kita jeli fenomena seperti ini sebenarnya telah terjadi sekarang ini di Indonesia.

Label besar sejatinya nanti hanya akan menjadi pusat manufaktur band! :) Kita tidak akan menemukan lagi band-band awet populer seperti Slank, Gigi, Netral, Dewa19, Naif di masa depan nantinya. Semuanya hanya akan "easy come, easy go!"

Tapi kalo ada yang bilang label membuka manajemen artis bakal membunuh pula profesi manajer artis individual/otonom, gue sama sekali nggak setuju. Gue justru nggak melihat kalau manajer-manajer artis yang independen itu bakal tergusur atau kehilangan pekerjaan. Ini analisa yang terlalu sembrono. It's not the end of the world as we know it :) Negara ini punya lebih dari 200 juta penduduk. Yang pengen jadi artis, bikin band dan gilpop (gila popularitas) setiap harinya pasti bertambah ribuan. Justru segudang talenta ini menjadi market yang sangat potensial bagi manajer-manajer artis untuk dikelola.

Manajemen artis yang individual atau berbentuk firma masih akan sangat dibutuhkan dan berperan penting di sini nantinya. Perkembangan teknologi yang gokil belakangan masih menjanjikan masa depan yang cerah buat band-band yang tidak dikontrak major label lokal/internasional a.k.a indie. Hadirnya MySpace, YouTube, Multiply, Friendster, Ning dan perangkat musik digital lainnya sangat memungkinkan untuk mencetak artis besar via jalur alternatif. The Upstairs sendiri udah membuktikan hal ini sebelumnya.

Apalagi tren terbaru di Amrik dan Inggris sekarang rata-rata artis bernama besar malas memperpanjang kontrak rekaman mereka dan memilih hengkang dari major label. Prince, Madonna, Radiohead, NIN adalah para pelopor ”gerakan kembali ke indie” ini. Mereka justru mempercayakan manajemen artis mereka yang independen untuk berfungsi pula sebagai "label rekaman". Cepat atau lambat gue pikir band-band besar di Indonesia akan mengambil langkah yang sama nantinya. Slank, Naif dan Netral malah sudah membuktikannya..... dan mereka cukup berhasil! Salute!

Masih adakah jalan lain? Ada banget! Di dalam negeri sendiri sudah ada yang mempelopori ”penggratisan musik.” Album rekaman kini telah berubah fungsi menjadi sebuah ”marketing tool” untuk menjaring job manggung. Mungkin inilah masa dimana musisi tidak lagi memikirkan royalti rekaman! Bisa jadi kalau teknologi kloning nanti sudah semakin sempurna maka ini berarti ancaman besar! :)

Koil menjadi pionir dengan menjalin kerjasama dengan majalah musik untuk mendistribusikan album terbarunya (Blacklight Shines On) secara gratis. Selain itu mereka juga memberi akses download album gratis via website/mailing list musik. Ide Koil ini memang tergolong baru walau sebenarnya tidak original juga. Prince bulan Juni lalu lebih dulu mengedarkan 3 juta keping album terbarunya secara gratis via Tabloid Sun di Inggris.

Memang perlu dipelajari lebih lanjut lagi apakah strategi ”penggratisan musik” ini nantinya bakal merugikan atau malah menguntungkan. Yang pasti band-band baru tidak akan memiliki ”keistimewaan” seperti Koil jika mau mengambil strategi serupa.

Yang menarik lagi, sempat ada pertanyaan di bawah ini yang datang ke saya ketika jadi pembicara di sebuah seminar musik di kampus UI beberapa waktu lalu:

Bagaimana dengan marak terjadinya kasus manager-manager artis individual/otonom yang tidak profesional atau bermasalah? Katakan saja menipu artisnya, melakukan penggelapan keuangan, dsb.
Nah, untuk point di atas sebenernya gue jamin nggak akan terjadi lagi kalau di dalam manajemen artis kita sudah DITERTIBKAN secara organisasi dan administrasinya. Mari kita lihat apakah kita sudah memiliki kontrak tertulis antara manajemen dengan artis yang mengatur kerjasama profesional ini? Apakah peran, hak & kewajiban masing-masing pihak sudah di jabarkan secara rinci? Pemisahan fungsi manajemen sudah diberlakukan? Apakah antar personel band kita sudah memiliki kontrak internal pula? Kalo semua konsolidasi internal ini beres gue jamin masalah-masalah di atas nggak bakal terulang lagi di masa depan.

Oke, sementara begitu aja pandangan gue tentang isyu ini. Memang tulisan ini nggak akan mengubah strategi major label untuk tidak membuka divisi manajemen artis di dalam perusahaan mereka, toh semuanya jadi keputusan bisnis mereka juga. It’s their damn business afterall :) Lagipula masih ada juga major label yang tidak memberlakukan strategi dagang ini (paling tidak sementara ini), misalnya seperti Aquarius Musikindo, Universal Music Indonesia.

Yah, minimal kita bisa mencegah regenerasi kebodohan dan berlanjutnya proses pembodohan seperti ini sekarang juga.

Gue sangat berterimakasih kalo ada teman-teman yang mau memforward atau menyebarluaskan tulisan ini agar dibaca lebih banyak artis-artis baru yang berniat mempertaruhkan masa depan dan karir mereka sebagai musisi. Jangan biarkan mereka dirampok!

Hope we could make real changes together.
For better, not worst....
Diambil dr artikel tmn n smoga dpt bermanfaat ^^

OTOMATISASI TOKO DENGAN MESIN KASIR POS (POINT OF SALES) MURAH

Mungkin saat ini kamu sedang membuka bisnis seperti counter handphone, pulsa, salon, apotik, warung makan, bengkel, koperasi, minimarket, toko dsb, atau sedang berencana membuka usaha seperti itu. Nah kamu harus baca sedikit info penting ini, tentu kalian tidak akan rugi.

Nah siapa sih yang tidak tau Kasir, siapa sih yang tidak pernah melihat mesin kasir. Tentu semua orang pernah melihatnya saat sedang bertransaksi di sebuah toko yang besar. Pernahkah kalian perfikir untuk membuat otomatisasi bisnis yang sedang kamu kelola itu dengan menggunakan komputer seperti toko – toko besar itu, tentu kepingin banget kan, karena tentunya memudahkan dalam hal transaksi, Inventori, pelacakan barang dagangan sampai membuat laporan. Aku juga berfikir seperti itu saat membuat beberapa bisnis kecil – kecilan. Pernah Browsing dan bertanya – tanya, juga pernah nyolong – nyolong ngintip di mesin kasir, apa tho nama software yang di gunakan untuk mesin kasir yang kayaknya operasionalnya sangat mudah, akhirnya aku nemu juga kalau software itu namanya adalah POS (POINT OF SALES), secara umum setahu ku, Point-of-Sale adalah sebuah sistem yang memungkinkan diadakannya proses transaksi. Kalau ingin dirunut lebih spesifik lagi, maka POS memiliki pengertian sebagai hardware atau software yang digunakan untuk transaksi. Sistem POS digunakan di supermarket, restoran, hotel dan tempat-tempat lain yang membuka jasa retail. Dalam lingkup yang luas, POS juga bisa berarti proses pelayanan transaksi dalam sebuah toko retail.

Kebetulan aku mempunyai teman seorang programer di Ibukota, aku tanya berapa harganya untuk membuat software otomatisasi toko yang bernama POS (Point of Sales) itu, langsung dia jelaskan mulai harganya puluhan juta hingga ratusan juta. Astaga! Belum lagi maintenance nya musti juga mengeluarkan biaya. Wah sempat kecil juga hati ini untuk memboyong sebuah CD POS (Point of Sales) yang murah. Karena dari berapa orang yang aku tanya, semua jawabannya hampir sama. Tapi aku yakin sekali kalau pasti ada software seperti itu yang harganya murah atau bahkan gratis di jagat dunia maya ini. Akhirnya setelah browsing sana – sini, nemu juga yang gratisan dan setelah aku coba wah mata uang untuk transaksinya bukan rupiah, dan tidak mudah di pahami penggunaannya, sempet beberapa kali instal sofware unduhan di dunia maya, tapi hasilnya kurang puas juga. Setelah hampir putus asa akhirnya aku nemu sebuah web yang menjual Software POS (Point Of Sales) yang harganya sangat murah, harganya kurang dari Rp.150.000,- dan kita juga mendapatkan open source codenya. Wah mulai tertarik tuh langsung aja, setelah baca – baca sebentar aku boyong satu CD di webnya Rulisoft.com yang bernama Omset 2.0. Pemesanan tidak lama, barang kiriman nyampe Jogja juga cepet. Setelah aku coba, Akhirnya nemu juga yang aku cari selama ini!

OMSET 2.0
Omset adalah paket aplikasi dagang dengan modul sbb:
  • POS - bisa dengan scan barcode reader
  • Pembelian
  • Pembayaran Hutang
  • Penjualan
  • Penerimaan Piutang
  • Hutang
  • Piutang
  • Inventori

Modul-modul tersebut akan mencatat semua transaksi bisnis dengan akurasi dan kecepatan tinggi





Selain itu, Omset diperkaya dengan fitur canggih seperti
  • Scan Barcode di POS
  • Perubahan Harga
  • Stok Opname
  • Maximun & minimum stok
  • Laba rugi kotor
  • Laporan umur hutang dan piutang
  • Serial No. Controller
  • Multi Unit
  • Multi Mata Uang
  • Multi User
  • Multi Bahasa (Inggris / Indonesia)

Dengan adanya paket aplikasi ini, diharapkan dapat menjadi suatu momentum bagi perusahaan dagang untuk merapikan bisnisnya sehingga akan berkembang lebih besar lagi dan memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya

Omset adalah Opensource, dimana pengguna dapat memodifikasi semua fitur yang ada, karena Omset dijual berikut source codenya

Jika anda adalah seorang mahasiswa , maka Omset dapat dijadikan sebagai bahan studi untuk mengetahui lebih jauh bagaimana sistem Omset bekerja.
Yang terdapat dalam CD Omset :
  • Installer Omset (aplikasi Omset berikut source code dalam bentuk Ms. Access 2000)
  • Manual Book (dalam bentuk PDF - Adobe)
  • Training cara pakai Omset dengan video lewat Windows Media Player
  • Adobe Acrobat Reader
  • Access 2000 Runtime
  • Crystal Report Runtime

Jadi sekarang semakin mudah menjalankan bisnis kita, tinggal tak tuk tak tuk, semua laporan sudah siap dan yang pasti harganya murah. Langsung aja klik di Rulisoft.com untuk mereview atau membeli produk ini, atau klik di bawah ini.